Zona Nyaman

18 03 2014
  • Sebuah ungkapan. Tuhan tidak akan mengubah nasib jika kita sendiri tidak mengubahnya.
  • Jika kita masih menggunakan cara yang sama, jangan harap akan mendapat hasil yang berbeda
  • Di luar sana mungkin tampak gelap, tapi bisa jadi di sana ada sesuatu yang lebih (besar, banyak, enak). Name it
  • Power, tend to corrupt
  • Untuk menjadi manusia yang lebih berkembang, fokuslah untuk memperbaiki kelemhan
  • Regenerasi adalah hal yang alamiah. Bisa revolutif, bisa juga evolutif- Melakukan bidang pekerjaan yang berbeda bisa meningkatkan kompetensi kita.
  • Melihat permasalahan dari sudut yang berbeda dapat membuat pemahaman yang lebih luas dan lengkap. Perbedaan titik berdiri bisa mengubah apa yang kita lihat  #alm.poespoprodjo L.Ph. SS., SH.
  • Berubahlah dengan cepat, atau mati pelan-pelan
  • Pekerjaan besar bisa terhambat karena rutinitas yang menyenangkan
  • Seekor katak dimasukkan ke dalam panci air dingin. Dia merasa tenang. Air dimasak. Saat menjadi hangat, katak merasa makin nyaman. Tiba-tiba air mendidih, dan katak tidak sempat melompat dan mati.
  • Kalau tahun ini Anda masih mengerjakan hal yang sama dengan beberapa tahun lalu, bisa jadi Anda tidak berkembang
  • Daripada diubah oleh orang lain yang mungkin tidak sesuai dengan yang diharapkan, lebih baik mengubah diri sendiri- Untuk berubah, kadang harus dipaksa
  • Pemaksaan secara alamiah bisa mengantarkan ke perubahan
  • Perubahan ke derajat yang lebih rendah, ketiadaan, kesulitan, bisa mengantar ke perubahan. Tapi tidak sebaliknya.
  • Perasaan cukup dan melimpah, di satu sisi bisa menumbuhkan #zonanyaman bagi kita.
  • Ketergantungan adalah salah satu bentuk zona nyaman. Ketergantungan berbeda dengan kesalingtergantungan #7habit
  • Zona nyaman bisa membuat sesuatu yang bukan hak kita seakan milik kita. Saat kehilangan, kita lupa bahwa itu bukan milik kita. Suatu saat kita pasti akan kehilangan sesuatu itu. Dipaksa atau sukarela.
  • Dipaksa, terpaksa, bisa, biasa, suka, budaya #WIKA
  • Kalau kita merasa “gini-gini aja”, berarti kita ada di zona nyaman
  • Anehnya, kadang kita terjebak dalam zona nyaman, padahal itu tidak nyaman sama sekali.
  • Ketidakmampuan berubah, bisa membuat kita mempertahankan diri pada zona nyaman dengan segala cara. Silakan cek diri sendiri, apakah kita mampu atau tidak.
  • Situasi dan kondisi apapun saat ini dapat membawa ke dua pilihan. Zona nyaman, atau perubahan. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya.

 

Terima kasih semua, karena lingkungan rumahku, kantorku, temanku, komunitasku, adalah inspirasiku.

 





Mengapa Terjadi Banjir? Sebuah Tinjauan Ilmiah Populer

4 02 2014

Sewaktu bekerja di sebuah pabrik di Tangerang, saya belajar apa itu namanya (1) PICA. Problem Identification and Corrective Action. Jika ada sebuah kejadian, maka harus diidentifikasi apa masalah sebenarnya. Lalu dipikirkan pula apa tindakan perbaikannya. Dari sini muncul pula yang disebut (2) Continuous Improvement. Tiap masalah yang sudah diidentifikasi dan dilakukan tindakan perbaikannya, semua (3) didokumentasikan dengan maksud jika suatu hari terjadi masalah yang sama maka akan mudah mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Metode dokumentasi disistematisasikan dalam sistem (4) ISO. Secara mudah sistem ini menstandarisasikan semua proses untuk menjamin produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang standar. Standarisasi dilakukan dengan menuliskan (5) SOP, yang dengan mudah bisa kita katakan “tulislah apa yang Anda lakukan, dan lakukanlah apa yang sudah Anda tuliskan”. Namun di sini tentu yang dituliskan adalah proses yang benar. Karena bisa jadi proses yang selama ini dilakukan bisa jadi tidak efektif dan efisien. Atau – katanya, menurut bahasa Indonesia Efektif dan Efisien itu diterjemahkan sebagai sangkil dan mangkus. Arti kata yang aneh ya?

PICA, Continuous Improvement, SOP, ISO, semua dipahami oleh seluruh anggota organisasi dan saling berbagi informasi. Dengan demikian terjalin pula kepedulian di antara semua anggota organisasi untuk membuat organisasinya menjadi lebih baik, makin baik, dan paling baik.

Salah satu metode untuk meningkatkan kepedulian adalah dengan menerapkan (6) 5R. Ini tadinya adalah istilah Jepang, yang artinya Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin. Orang Indonesia seringkali memaknai aktivitas ini pekerjaannya OB, pembantu, karyawan rendahan. Dengan bersahajanya, orang Jepang “menciptakan” metode ini dan menjadikannya budaya di seluruh perusahaan-perusahaan Jepang yang ada di seluruh dunia.

Sistem Manajemen Kualitas juga membicarakan mengenai (7) Akar Permasalahan. Jika ada sebuah masalah, maka yang harus dicari adalah sumber awalnya. Karena kalau pangkal masalahnya tidak ditemukan, dan yang diperbaiki/dibenahi bukan masalah sebenarnya, niscaya masalah itu akan tetap muncul lagi. Demikian para ahli memercayainya.

Ada sebuah tools yang disebut (8) Fish Bone. Disebut demikian karena alat bantu ini berbentuk gambar yang menyerupai tulang ikan. Sehingga dalam Bahasa Indonesiapun alat bantu ini disebut Diagram Tulang Ikan. Gambarlah kerangka tulang ikan, dan masing-masing rangka durinya tulislah empat buah M, dan satu E. Empat buah M berarti Man, Machine, Money, Method. E adalah Environment. Jika dikembangkan lagi bisa saja muncul M yang lain seperti Maintenance atau Management (silahkan googling “Fish Bone”). Penemunya percaya tiap masalah pasti ada masalah yang disebabkan oleh Manusia, Mesin, Uang, dan Metode. Juga ada faktor Lingkungan. Dari masing-masing penyebab permasalahan (di 4M dan 5E) belum tentu itulah akar permasalahannya. Karena dari penyebab yang kita tuliskan, bisa jadi ada penyebabnya. Dari masing-masing penyebab kita pikirkan lagi apa yang membuat penyebab ini muncul. Lakukan hingga kita tidak bisa lagi mencari penyebabnya, dan bisa jadi itulah akar permasalahan sebenarnya. Aktivitas ini tentu tidak dilakukan sendiri, melainkan dengan brainstorming di antara seluruh anggota organisasi. Karena makin banyak kepala bisa jadi kita menemukan penyebab yang kita sendiri tidak menyadarinya karena keterbatasan sudut pandang kita.

Jika kita melakukan semua itu dengan baik, selanjutnya daripada melakukan tindakan kuratif (menyelesaikan masalah yang ada) kita lebih cenderung disarankan untuk melakukan tindakan (9) Preventive Maintenance. Dengan demikian tanpa harus menunggu sebuah kesalahan, error, bug, masalah terjadi, kita dituntut untuk menjaga agar tidak terjadi apa yang tidak kita inginkan. Ada sebuah istilah yaitu (10) MTBF (Mean Time before Failure). Ada pengukuran yang bisa dihitung untuk menentukan berapa lama kira-kira sebuah failure akan berulang terjadi. Sehingga sebelum tenggat ini terlewati, maka kita harus melakukan perawatan yang sudah ditetapkan dalam SOP hingga dapat mencegah kerugian yang besar.

Di awal tulisan ini dijuduli “Mengapa Terjadi Banjir?” Lho, apa hubungannya sih dengan bahasan di atas? Ya tidak usah menggunakan semua tools yang sudah disebutkan di atas ‘deh’. Yuk, kita coba menggali akar permasalahannya dengan mengimplementasikan pencarian akar permasalahan. Tidak persis fish bone, tapi masing-masing bisa mencoba versi Anda sendiri. Kalau digabungkan, saya yakin akan sangat luar biasa kompleks. Juga, kalau diterapkan, bukan tidak mungkin permasalahan ini bisa berlalu. Untuk membantu apa yang ditanya dan dijawab, bisa menggunakan alat bantu tanya (11) 5W 1H (Where, When, Why, Who What, How). Bagus juga kalau menggunakan (12) Mind Map (mirip fish bone) untuk mampu memetakan yang lebih kompleks. Kita coba ya…..

Lihat air sungai yang mengalir deras, dan banyak sampahnya.
– Mengapa banyak sampah? Karena banyak orang yang membuang sampah ke kali.
– Mengapa membuang sampah ke kali? Tidak ada tempat sampah.
– Mengapa tidak ada tempat sampah? Karena lingkungan rumah terbatas/sempit.
– Mengapa lingkungan sempit? Tingginya urbanisasi menyebabkan banyak rumah kumuh.
– Mengapa banyak rumah kumuh? Banyak orang daerah ke kota.
– Mengapa banyak orang daerah ke kota? Ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
– Mengapa tidak bekerja di desa/kampung halaman? Lapangan pekerjaan makin sedikit.

Mungkinkah lapangan pekerjaan adalah akar permasalahannya? Mungkinkah ada faktor lain yang menyebabkan lapangan pekerjaan makin sedikit? Kalau ini akar permasalahannya, apakah mungkin dengan menambah lapangan pekerjaan di daerah/desa/kampung, secara tidak langsung tapi mampu menjadi pengungkit yang besar untuk menyelesaikan banjir?

Ini baru dari satu sudut pandang Sosiologi saja. Pencarian akar masalah bisa saja dilihat melalui aspek Psikologis, Klimatologi, Biologi, dan sebagainya. Kalau semua orang peduli dan memberikan sumbangannya untuk mencari akar permasalahannya (dalam hal ini untuk banjir), lalu akar permasalahannya satu per satu diselesaikan, meski tidak instan, mungkin kita sudah ada di jalan yang benar untuk melakukan perbaikan jangka panjang dan berkelanjutan.

Sekarang, apa akar permasalahan versi Anda? Yuk kita diskusi. Kalau perlu kita buat komunitasnya.





2014

6 01 2014

Sudah tahun baru, 2014.

Belum ada ide lagi nih mau nulis apa……





Level 42: Bukan Grup Musik

15 10 2013

Image

Seperti sebuah game komputer, tadi malam saya baru saja menyelesaikan game kehidupan di Level 41; dan sekarang baru memasuki level ke-42. Di Level 42 ini permainan pastinya lebih seru, sulit, sekaligus menantang dibandingkan level sebelumnya. Juga permainan ini harus saya selesaikan hingga setahun ke depan.

Dalam setahun ke depan saya harus mempunyai strategi, cara menyelesaikan game Level 42 ini dengan baik agar – kalau game perang – saya tidak perlu banyak menghabiskan amunisi dan bahan bakar, tapi tetap bisa mencapai garis finish. Dengan jatah peluru yang terbatas harus lebih mampu menembak jatuh musuh/target lebih banyak. Laksana game Goal Pou, harus memasukkan banyak bola ke dalam gawang. Seperti Farm Ville, harus bisa banyak menanam benih-benih yang nanti akan dipanen di saat sudah ranum. Semisal game catur, harus lebih cermat untuk memilih buah catur mana, dan ke mana langkah hendak dilewati. Pun harus berhati-hati karena harus mengantisipasi langkah lawan. Pun layaknya game Pool, harus jeli bola mau dimasukkan ke lubang yang yang mana, dengan arah dan kecepatan stik yang tepat.

Pada setiap pemainan balap mobil, saya harus selalu tahu kapan saatnya ada kerusakan di salah satu komponen mobil, atau saat bahan bakar mulai menipis. Dengan demikian tahu kapan harus berhenti sesaat di pit stop sekadar untuk mengisi bensin, mengganti ban, memberi oli, atau sejenak mengevaluasi langkah yang sudah diambil untuk menentukan apakah harus melanjutkan atau mengubah strategi.

Mirip permainan game sepak bola, saya harus mampu menentukan dengan tim mana saya akan bergabung, karena hanya dengan tim terbaiklah saya akan menang.

Saya juga harus mengingat langkah-langkah saat memainkan level sebelumnya, agar tidak salah langkah, lebih-lebih mengulangi kesalahan yang pernah dibuat. Jangan sampai masuk ke jebakan lawan yang ada sehingga harus mulai dari awal lagi.

Di semua game komputer, makin meningkat levelnya, saya harus makin mahir, tangkas, cepat bereaksi, bahkan otomatis, mengarahkan tombol kursor ke arah yang tepat, kaoan menembak, mengelak, mundur, bertahan, untuk kemudian lari dengan cepat ke target berikut di depannya.

Tidak lupa, sesekali namun berkala saya harus menekan tombol jeda (pause), saat saya sudah mulai lelah, juga tombol Help! (F1), ketika saya membutuhkan pertolongan dari yang membuat Maha Game ini. Karena saya yakin dalam panduan menjalankan game ini Si Programmer sudah memberikan cara-cara menjalankan game ini, aturannya, yang boleh dan tidak, dan bahkan bagaimana memenangkan game ini dengan benar. Namun tak sekali pun perlu googling untuk mencari trik memenangkan, atau short cut, atau game cheat untuk memenangkan game ini dengan mudah tanpa perlu khawatir kehabisan amunisi atau nyawa yang dijatah dalam tiap level. Karena kalau itu dilakukan, akan mengurangi makna keseruan memainkan game ini. Perjalanan melalui semua rintangan di Level 42 inilah yang kelak akan memampukan saya untuk nanti bisa masuk dan memenangkan level game berikutnya, di Level 43, di tahun depan.

Kini, saatnya saya mulai mamainkan game di level 42. Mainkaaan……..

Jakarta, 15 Oktober 2013





Bekal usaha. Copas dari FB nya Mas Suut P.

16 09 2013

image

Posted from WordPress for Android





One of The DISC

13 09 2013

Pernah tahu orang yang memiliki mayoritas sifat-sifat ini? Pelit, suka memerintah, bicaranya data/kuantitas, emosional, suka marah kalau keinginannya tidak terpenuhi, yang diingat kesalahan orang, sukses, berada di puncak, target oriented, angka, banyak yang tidak menyukainya, menekan.

Ya, kelihatannya orang ini nggak banget ya? Tapi lucunya kebanyakan orang yang memiliki sifat ini sukses dan berhasil. Meskipun, tentunya, dia banyak tidak disukai orang. Bisa jadi karena sifat-sifat yang dia miliki di atas, atau karena orang iri saja dengan keberhasilannya.

Penjabaran ini sama sekali bukan karena saya tidak menyukai seseorang. Ini jauh lebih merupakan kajian ilmiah berdasarkan pengamatan ke beberapa subyek di sekitar saya dari sudut pandang psikologi, sosial, dan tentunya komunikasi – sebagai ilmu baru hasil akumulasi ilmu psikologi dan sosial. Juga, terutama karena karena saya adalah seorang Certified Behavior Analyst.

Mengamati perilaku orang selalu menarik. Karena variannya begitu banyak, dan dampak satu tindakan (stimulus) pada orang yang berbeda akan menghasilkan tanggapan (respon) yang bisa jadi berbeda juga.

Posted from WordPress for Android





Lesson to learn

4 06 2013

Be focused on what you really want to get, and you will get what you want