Kondisi Kesehatan Moki, 3 Mei 2017

4 05 2017
Hari ini ketika pulang dari kantor ada kejutan yang membahagiakan. Moki yang kakinya tertabrak motor sudah mulai bisa berjalan lagi. Sebelumnya kalau berjalan kakinya diseret seperti orang yang stroke. Tapi malam ini dia agak sudah mulai berjalan seperti biasa. Meskipun kelihatan masih lemas. Tapi telapaknya sudah mulai menapak.
Pinggul kanan yang belakangan ketahuan luka terbuka (robek) dan kelihatan daging merah segar sudah mulai mengering dan tertutup oleh kulit. Mudah-mudahan tidak lama lagi bulunya juga akan tumbuh lagi.
Paling parah adalah ekornya. Awalnya drh mengatakan ekor Moki patah juga tapi tak mengapa nanti akan nyambung sendiri. Akhirnya kami tidak terlalu memperhatikannya. Namun lama kelamaan keanehan muncul. Kami menemukan ekornya di lantai. Awalnya di kantor saya mendengar berita itu menyangka ekornya putus. Bukan putus ternyata, namun bulu berikut kulitnya terlepas. Yang tersisa adalah tulang ekor yang dibungkus daging segar. Jujur saja pada mulanya saya sendiri tidak kuasa untuk melihat penderitaan itu. Hal yang bisa saya lakukan hanya memberi bubuk anti kuman/bakteri agar ekornya tidak infeksi. Lama kelamaan ekornya seperti mengering dan terbungkus oleh daging yang mengering.
Ternyata penderitaan Moki belum berakhir. Kulit kering itu terlepas lagi dari ekornya dan kembali, menyisakan tulang ekor dengan daging segar yang basah. Proses memberikan bubuk anti infeksi/bakteri pun kembali dilakukan. Sekarang, pada ekornya sudah mulai tumbuh kulit lagi. Mudah2an kelak ekornya akan tertutup kulit semua dan berlanjut dengan tumbuhnya bulu.
Tapi saat ini baru permulaan. Baru pangkal ekornya saja yang sudah ditumbuhi kulit. Di ujung ekor masih tertutup oleh daging kering mati yang membentuk kerak. Sementara di tengah ekornya masih tampak jelas daging segar yang basah mengkilap.
Usaha dan doa ini belum selesai. Mohon doa dari Ontu dan Ongkel untuk kesembuhan Moki. Berharap menjelang Lebaran nanti sudah bisa sehat seperti sediakala sehingga kami sekeluarga bisa merayakan Idul Fitri dengan lebih sempurna dengan anabul tercinta yang sudah sehat.
Saya begitu terharu menyaksikan perkembangan baik ini. Alhamdulillah. Aamiin…




Catatan akhir tahun 2016

2 01 2017

​Catatan Liburan Akhir Tahun 2016

Liburan akhir tahun ini dinikmati dengan cara yang sangat istimewa.  Awalnya berencana liburan sekeluarga ke kampung halaman. Untung tak dapat diraih malang tak dapat ditolak.

Keluarga yang lain sudah berangkat mendahului karena anak-anak sudah keburu libur. Tepat pada saatnya akan berangkat batuk kering bukannya makin sembuh malahan makin parah. Seumur-umur baru sekarang ini batuk lebih dari dua setengah Minggu. Jalan periode itu sudah tiga kali ke dokter. Bahkan ke dokter yang terakhir obat yang mengandung narkoba begitu Katanya supaya efeknya kuat. Saat ke dokter yang terakhir penyakitnya juga bertambah. Karang batuk kering makin kencang setiap kali batuk otot berkontraksi hingga ke pinggang. Tepat pada tempat lower back pain yang sekian kali kumat. Dan kali ini setiap hari batuk terasa sekali sakitnya hingga ke tempat lower back pain. Akhirnya saat ke dokter yang terakhir selain diberi obat batuk juga diberi obat lower back pain.

Walhasil Jumat Sabtu Minggu Senin hanya di rumah saja. Selama di rumah paling order makan pemakai go food. Terima kasih untuk teknologi yang saat ini memungkinkan untuk semua itu.  Terima kasih juga untuk Mona, kucing kami yang selalu menemani Selama saya sakit. Pagi siang malam dia selalu setia menemani. Bahkan beberapa malam dia Menemani tidur. Ya Saya tidur di depan TV di ruang tengah hanya menggunakan tikar dan dilapis dengan alas terpal Yoga. Itu dilakukan agar pinggang tetap lurus.  Mona Sepertinya tahu bahwa tuannya sedang sakit. Rasanya Aneh ketika melihat Mona memandang. Tampak Sepertinya Dia kasihan melihat saya. 

Di hari terakhir saya mencoba berlatih Yoga untuk gerakan gerakan yang bisa mengendurkan pinggang.

Dipandu dengan aplikasi dari smartphone cukup 15 menit untuk latihan pertama. Hasilnya cukup lumayan Badan terasa lebih enak. 

Malam ini saat cerita ini ditulis, badan sudah jauh terasa lebih baik.   Meskipun tidak bisa disangkal bahwa badan masih terasa kebas.  pasti ini ulah dari antibiotik kadar tinggi. 

Hidung masih belum bisa mencium bau apapun, dan makanan yang ditelan juga berasa hambar semua. 

 Semoga besok sudah bisa kembali beraktivitas seperti biasa.

 Catatan. Catatan harian ini dibuat sepenuhnya dengan menggunakan Google Speech To Text. Sehingga Mungkin banyak tanda baca yang kurang pas utamanya  tanda baca koma.  selain itu juga huruf besar yang tidak pada tempatnya sengaja tidak diedit. Ini sebagai bahan evaluasi nanti Untuk melihat seberapa efektifnya penggunaan speech to text dalam bahasa Indonesia.





The Saddest Story

19 09 2016

Si hitam jumat pagi kemarin g ada suaranya. Tau2 sudah membujur kaku :-(( Lalu tinggal lah sikun(ing) sendiri. Meongnya memelas sekali. Malam2 maunya ngusel di antara kaki pengen dikelonin.

Dua hari kemudian tepatnya minggu sore saat ditaruh di belakang rumah – padahal tidak ada akses keluar – Sikun menghilang. Ubek2 dicari anehnya g ketemu. Kalau mati ya sampai sekarang kok g bau bangkai. Agak g mungkin kalau dia memanjat tembok penghalang banjir karena dia jalan saja belum lancar. Agak gak mungkin juga ditemukan induknya karena dia sudah bau orang.

Saya dan anak2 sangat berduka. Mengingat mereka berdua 4 kali sehari – atau lebih – saya suapi susu pakai pipet. Bahkan siang hari selalu  menyempatkan pulang dari kantor hanya untuk menyusui mereka…..kadang sampai diri sendiri lupa makan. 

Selamat jalan untuk kalian berdua….





In Memoriam: Rong-Rong a.k.a. Ong-Ong

4 09 2016

Mona sebatang kara

Sendiri tak ada siapa-siapa

Ditinggal mati 2 kakaknya

Ditinggal pergi 3 entah ke mana

Emak pun tak tau rimbanya
Sejak ditinggal mati si kakak

Mona tau mau minum

Juga tak mau makan

Jelas sekali raut sedih di mukanya.
Semua tlah tiada

Tapi kau masih memiliki keluarga

Kami semua sayang padamu Mona

Jangan bersedih jangan berduka
Kembalilah minum, kembalilah makan

Kembalilah ceria

Kembali jalani hidup yang ceria

Kita doakan saja dia bahagia di sana
Lihatlah lihat

Tuhan kembali memberi rezeki

Dua anak kau kirim ke sini

Untuk menemani biar tak sendiri
Jadilah kakak yang berbudi

Sayangi mereka seperti saudara sendiri

Ajari mereka hidup sendiri

Karena besar nanti kau mesti mandiri





Waktu

9 12 2014

Padahal waktu, selalu setia memberi dan menunggu kita 24 jam sehari. Tanpa lebih, tanpa kurang. Pas! Dan esoknya, ia akan memberikan lagi kesetiannya. Dan begitu seterusnya.





Zona Nyaman

18 03 2014
  • Sebuah ungkapan. Tuhan tidak akan mengubah nasib jika kita sendiri tidak mengubahnya.
  • Jika kita masih menggunakan cara yang sama, jangan harap akan mendapat hasil yang berbeda
  • Di luar sana mungkin tampak gelap, tapi bisa jadi di sana ada sesuatu yang lebih (besar, banyak, enak). Name it
  • Power, tend to corrupt
  • Untuk menjadi manusia yang lebih berkembang, fokuslah untuk memperbaiki kelemhan
  • Regenerasi adalah hal yang alamiah. Bisa revolutif, bisa juga evolutif- Melakukan bidang pekerjaan yang berbeda bisa meningkatkan kompetensi kita.
  • Melihat permasalahan dari sudut yang berbeda dapat membuat pemahaman yang lebih luas dan lengkap. Perbedaan titik berdiri bisa mengubah apa yang kita lihat  #alm.poespoprodjo L.Ph. SS., SH.
  • Berubahlah dengan cepat, atau mati pelan-pelan
  • Pekerjaan besar bisa terhambat karena rutinitas yang menyenangkan
  • Seekor katak dimasukkan ke dalam panci air dingin. Dia merasa tenang. Air dimasak. Saat menjadi hangat, katak merasa makin nyaman. Tiba-tiba air mendidih, dan katak tidak sempat melompat dan mati.
  • Kalau tahun ini Anda masih mengerjakan hal yang sama dengan beberapa tahun lalu, bisa jadi Anda tidak berkembang
  • Daripada diubah oleh orang lain yang mungkin tidak sesuai dengan yang diharapkan, lebih baik mengubah diri sendiri- Untuk berubah, kadang harus dipaksa
  • Pemaksaan secara alamiah bisa mengantarkan ke perubahan
  • Perubahan ke derajat yang lebih rendah, ketiadaan, kesulitan, bisa mengantar ke perubahan. Tapi tidak sebaliknya.
  • Perasaan cukup dan melimpah, di satu sisi bisa menumbuhkan #zonanyaman bagi kita.
  • Ketergantungan adalah salah satu bentuk zona nyaman. Ketergantungan berbeda dengan kesalingtergantungan #7habit
  • Zona nyaman bisa membuat sesuatu yang bukan hak kita seakan milik kita. Saat kehilangan, kita lupa bahwa itu bukan milik kita. Suatu saat kita pasti akan kehilangan sesuatu itu. Dipaksa atau sukarela.
  • Dipaksa, terpaksa, bisa, biasa, suka, budaya #WIKA
  • Kalau kita merasa “gini-gini aja”, berarti kita ada di zona nyaman
  • Anehnya, kadang kita terjebak dalam zona nyaman, padahal itu tidak nyaman sama sekali.
  • Ketidakmampuan berubah, bisa membuat kita mempertahankan diri pada zona nyaman dengan segala cara. Silakan cek diri sendiri, apakah kita mampu atau tidak.
  • Situasi dan kondisi apapun saat ini dapat membawa ke dua pilihan. Zona nyaman, atau perubahan. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya.

 

Terima kasih semua, karena lingkungan rumahku, kantorku, temanku, komunitasku, adalah inspirasiku.

 





Mengapa Terjadi Banjir? Sebuah Tinjauan Ilmiah Populer

4 02 2014

Sewaktu bekerja di sebuah pabrik di Tangerang, saya belajar apa itu namanya (1) PICA. Problem Identification and Corrective Action. Jika ada sebuah kejadian, maka harus diidentifikasi apa masalah sebenarnya. Lalu dipikirkan pula apa tindakan perbaikannya. Dari sini muncul pula yang disebut (2) Continuous Improvement. Tiap masalah yang sudah diidentifikasi dan dilakukan tindakan perbaikannya, semua (3) didokumentasikan dengan maksud jika suatu hari terjadi masalah yang sama maka akan mudah mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Metode dokumentasi disistematisasikan dalam sistem (4) ISO. Secara mudah sistem ini menstandarisasikan semua proses untuk menjamin produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang standar. Standarisasi dilakukan dengan menuliskan (5) SOP, yang dengan mudah bisa kita katakan “tulislah apa yang Anda lakukan, dan lakukanlah apa yang sudah Anda tuliskan”. Namun di sini tentu yang dituliskan adalah proses yang benar. Karena bisa jadi proses yang selama ini dilakukan bisa jadi tidak efektif dan efisien. Atau – katanya, menurut bahasa Indonesia Efektif dan Efisien itu diterjemahkan sebagai sangkil dan mangkus. Arti kata yang aneh ya?

PICA, Continuous Improvement, SOP, ISO, semua dipahami oleh seluruh anggota organisasi dan saling berbagi informasi. Dengan demikian terjalin pula kepedulian di antara semua anggota organisasi untuk membuat organisasinya menjadi lebih baik, makin baik, dan paling baik.

Salah satu metode untuk meningkatkan kepedulian adalah dengan menerapkan (6) 5R. Ini tadinya adalah istilah Jepang, yang artinya Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin. Orang Indonesia seringkali memaknai aktivitas ini pekerjaannya OB, pembantu, karyawan rendahan. Dengan bersahajanya, orang Jepang “menciptakan” metode ini dan menjadikannya budaya di seluruh perusahaan-perusahaan Jepang yang ada di seluruh dunia.

Sistem Manajemen Kualitas juga membicarakan mengenai (7) Akar Permasalahan. Jika ada sebuah masalah, maka yang harus dicari adalah sumber awalnya. Karena kalau pangkal masalahnya tidak ditemukan, dan yang diperbaiki/dibenahi bukan masalah sebenarnya, niscaya masalah itu akan tetap muncul lagi. Demikian para ahli memercayainya.

Ada sebuah tools yang disebut (8) Fish Bone. Disebut demikian karena alat bantu ini berbentuk gambar yang menyerupai tulang ikan. Sehingga dalam Bahasa Indonesiapun alat bantu ini disebut Diagram Tulang Ikan. Gambarlah kerangka tulang ikan, dan masing-masing rangka durinya tulislah empat buah M, dan satu E. Empat buah M berarti Man, Machine, Money, Method. E adalah Environment. Jika dikembangkan lagi bisa saja muncul M yang lain seperti Maintenance atau Management (silahkan googling “Fish Bone”). Penemunya percaya tiap masalah pasti ada masalah yang disebabkan oleh Manusia, Mesin, Uang, dan Metode. Juga ada faktor Lingkungan. Dari masing-masing penyebab permasalahan (di 4M dan 5E) belum tentu itulah akar permasalahannya. Karena dari penyebab yang kita tuliskan, bisa jadi ada penyebabnya. Dari masing-masing penyebab kita pikirkan lagi apa yang membuat penyebab ini muncul. Lakukan hingga kita tidak bisa lagi mencari penyebabnya, dan bisa jadi itulah akar permasalahan sebenarnya. Aktivitas ini tentu tidak dilakukan sendiri, melainkan dengan brainstorming di antara seluruh anggota organisasi. Karena makin banyak kepala bisa jadi kita menemukan penyebab yang kita sendiri tidak menyadarinya karena keterbatasan sudut pandang kita.

Jika kita melakukan semua itu dengan baik, selanjutnya daripada melakukan tindakan kuratif (menyelesaikan masalah yang ada) kita lebih cenderung disarankan untuk melakukan tindakan (9) Preventive Maintenance. Dengan demikian tanpa harus menunggu sebuah kesalahan, error, bug, masalah terjadi, kita dituntut untuk menjaga agar tidak terjadi apa yang tidak kita inginkan. Ada sebuah istilah yaitu (10) MTBF (Mean Time before Failure). Ada pengukuran yang bisa dihitung untuk menentukan berapa lama kira-kira sebuah failure akan berulang terjadi. Sehingga sebelum tenggat ini terlewati, maka kita harus melakukan perawatan yang sudah ditetapkan dalam SOP hingga dapat mencegah kerugian yang besar.

Di awal tulisan ini dijuduli “Mengapa Terjadi Banjir?” Lho, apa hubungannya sih dengan bahasan di atas? Ya tidak usah menggunakan semua tools yang sudah disebutkan di atas ‘deh’. Yuk, kita coba menggali akar permasalahannya dengan mengimplementasikan pencarian akar permasalahan. Tidak persis fish bone, tapi masing-masing bisa mencoba versi Anda sendiri. Kalau digabungkan, saya yakin akan sangat luar biasa kompleks. Juga, kalau diterapkan, bukan tidak mungkin permasalahan ini bisa berlalu. Untuk membantu apa yang ditanya dan dijawab, bisa menggunakan alat bantu tanya (11) 5W 1H (Where, When, Why, Who What, How). Bagus juga kalau menggunakan (12) Mind Map (mirip fish bone) untuk mampu memetakan yang lebih kompleks. Kita coba ya…..

Lihat air sungai yang mengalir deras, dan banyak sampahnya.
– Mengapa banyak sampah? Karena banyak orang yang membuang sampah ke kali.
– Mengapa membuang sampah ke kali? Tidak ada tempat sampah.
– Mengapa tidak ada tempat sampah? Karena lingkungan rumah terbatas/sempit.
– Mengapa lingkungan sempit? Tingginya urbanisasi menyebabkan banyak rumah kumuh.
– Mengapa banyak rumah kumuh? Banyak orang daerah ke kota.
– Mengapa banyak orang daerah ke kota? Ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
– Mengapa tidak bekerja di desa/kampung halaman? Lapangan pekerjaan makin sedikit.

Mungkinkah lapangan pekerjaan adalah akar permasalahannya? Mungkinkah ada faktor lain yang menyebabkan lapangan pekerjaan makin sedikit? Kalau ini akar permasalahannya, apakah mungkin dengan menambah lapangan pekerjaan di daerah/desa/kampung, secara tidak langsung tapi mampu menjadi pengungkit yang besar untuk menyelesaikan banjir?

Ini baru dari satu sudut pandang Sosiologi saja. Pencarian akar masalah bisa saja dilihat melalui aspek Psikologis, Klimatologi, Biologi, dan sebagainya. Kalau semua orang peduli dan memberikan sumbangannya untuk mencari akar permasalahannya (dalam hal ini untuk banjir), lalu akar permasalahannya satu per satu diselesaikan, meski tidak instan, mungkin kita sudah ada di jalan yang benar untuk melakukan perbaikan jangka panjang dan berkelanjutan.

Sekarang, apa akar permasalahan versi Anda? Yuk kita diskusi. Kalau perlu kita buat komunitasnya.