Today’s Lesson to Learn

29 05 2013

Komunikasi, dalam arti seluas-2nya adalah meletakkan diri kita pada paradigma lawan bicara kita (empati) hingga sampai di derajat yang sama pada level lawan bicara kata, baik tinggi maupun rendah. Keengganan untuk menyamakan level posisi ini, termasuk tidak mampu, terlebih arogan untuk tidak melakukannya, hanya membawa pada kesia-siaan, kegagalan menyampaikan maksud tujuan & mendapatkan penerimaan lawan bicara kita. (Dalam menanggapi lawan bicara yang tetap bersikukuh bahwa teorinya lah yang benar, dan yang lain salah. Juga karena dia lebih pintar karena pendidikan yang lebih tinggi).





15 07 2011

ENTREPRENEURSHIP

10 Juli 2011

Di suatu minggu sore, sambil bekerja dan menonton tv. Berpikir…

Saya bukan (belum menjadi) entrepreneur, tapi mengamati para entrepreneur. Gak tau nih kok tiba2 demen ngomongin tentang entrepreneurship. Beginilah pandangan dan pengamatan saya:

  • Entrepreneur justru bekerja saat kita berlibur, dan saat kita bekerja, mereka (entrepreneur pemula) bekerja juga; sedangkan entrepreneur sukses bisa memilih mau bekerja atau berlibur
  • There’s no week end for entrepreneur. But they can say everyday is holiday too…
  • Karyawan kerja di kantor, di rumah mereka mnjadi bapak/ibu/suami/istri. Entrepreneur jd entrepreneur di kantor, di rumah, bahkan saat baru bangun dan mau tidur.
  • Entrepreneur tiap malam bermimpi tentang usahanya
  • Entrepreneur memasukkan usaha mereka ke dalam alam bawah sadar mereka (alpha level)
  • Konsisten, tekun, pantang menyerah, dan tidak cepat puas adalah kata kunci para entrepreneur
  • Jangan tanya pada entrepreneur bagaimana cara mereka berhasil, tapi tanya berapa kali gagal, & *mampu bangkit kembali* dari kegagalan mereka.
  • Jangan mengaku menjadi entrepreneur sejati bila baru sekali usaha lalu berhasil.
  • Bukan entrepreneur jika saat ini Anda menjalankan usaha warisan orang tua (cmiiw)
  • Entrepreneurship lebih berkaitan dengan kecerdasan (eq) daripada kepintaran (iq)
  • Konon IQ cenderung stabil selama hidup, sementara EQ bisa ditingkatkan/dipelajari. entrepreneur belajar EQ di seluruh hidupnya.
  • Semua orang bisa/berhak/boleh untuk jadi entrepreneur. Tetapi kualifikasi/ciri seseorang entrepreneur itulah yg akan menentukan mana yg berhasil/tidak (konsisten, tekun, pantang menyerah, tidak cepat puas).
  • Entrepreneur berkata “saya belum berhasil”, lalu tetap mencoba (yg lain) hingga berhasil. yang bukan berkata “saya gagal”, lalu berhenti.
  • Entrepreneur memulai usahanya dari kecil kemudian makin membesar sejalan dg waktu.
  • Entrepreneur jiwanya tetap humble meski sudah berhasil