Mengapa Terjadi Banjir? Sebuah Tinjauan Ilmiah Populer

4 02 2014

Sewaktu bekerja di sebuah pabrik di Tangerang, saya belajar apa itu namanya (1) PICA. Problem Identification and Corrective Action. Jika ada sebuah kejadian, maka harus diidentifikasi apa masalah sebenarnya. Lalu dipikirkan pula apa tindakan perbaikannya. Dari sini muncul pula yang disebut (2) Continuous Improvement. Tiap masalah yang sudah diidentifikasi dan dilakukan tindakan perbaikannya, semua (3) didokumentasikan dengan maksud jika suatu hari terjadi masalah yang sama maka akan mudah mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Metode dokumentasi disistematisasikan dalam sistem (4) ISO. Secara mudah sistem ini menstandarisasikan semua proses untuk menjamin produk yang dihasilkan memiliki kualitas yang standar. Standarisasi dilakukan dengan menuliskan (5) SOP, yang dengan mudah bisa kita katakan “tulislah apa yang Anda lakukan, dan lakukanlah apa yang sudah Anda tuliskan”. Namun di sini tentu yang dituliskan adalah proses yang benar. Karena bisa jadi proses yang selama ini dilakukan bisa jadi tidak efektif dan efisien. Atau – katanya, menurut bahasa Indonesia Efektif dan Efisien itu diterjemahkan sebagai sangkil dan mangkus. Arti kata yang aneh ya?

PICA, Continuous Improvement, SOP, ISO, semua dipahami oleh seluruh anggota organisasi dan saling berbagi informasi. Dengan demikian terjalin pula kepedulian di antara semua anggota organisasi untuk membuat organisasinya menjadi lebih baik, makin baik, dan paling baik.

Salah satu metode untuk meningkatkan kepedulian adalah dengan menerapkan (6) 5R. Ini tadinya adalah istilah Jepang, yang artinya Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin. Orang Indonesia seringkali memaknai aktivitas ini pekerjaannya OB, pembantu, karyawan rendahan. Dengan bersahajanya, orang Jepang “menciptakan” metode ini dan menjadikannya budaya di seluruh perusahaan-perusahaan Jepang yang ada di seluruh dunia.

Sistem Manajemen Kualitas juga membicarakan mengenai (7) Akar Permasalahan. Jika ada sebuah masalah, maka yang harus dicari adalah sumber awalnya. Karena kalau pangkal masalahnya tidak ditemukan, dan yang diperbaiki/dibenahi bukan masalah sebenarnya, niscaya masalah itu akan tetap muncul lagi. Demikian para ahli memercayainya.

Ada sebuah tools yang disebut (8) Fish Bone. Disebut demikian karena alat bantu ini berbentuk gambar yang menyerupai tulang ikan. Sehingga dalam Bahasa Indonesiapun alat bantu ini disebut Diagram Tulang Ikan. Gambarlah kerangka tulang ikan, dan masing-masing rangka durinya tulislah empat buah M, dan satu E. Empat buah M berarti Man, Machine, Money, Method. E adalah Environment. Jika dikembangkan lagi bisa saja muncul M yang lain seperti Maintenance atau Management (silahkan googling “Fish Bone”). Penemunya percaya tiap masalah pasti ada masalah yang disebabkan oleh Manusia, Mesin, Uang, dan Metode. Juga ada faktor Lingkungan. Dari masing-masing penyebab permasalahan (di 4M dan 5E) belum tentu itulah akar permasalahannya. Karena dari penyebab yang kita tuliskan, bisa jadi ada penyebabnya. Dari masing-masing penyebab kita pikirkan lagi apa yang membuat penyebab ini muncul. Lakukan hingga kita tidak bisa lagi mencari penyebabnya, dan bisa jadi itulah akar permasalahan sebenarnya. Aktivitas ini tentu tidak dilakukan sendiri, melainkan dengan brainstorming di antara seluruh anggota organisasi. Karena makin banyak kepala bisa jadi kita menemukan penyebab yang kita sendiri tidak menyadarinya karena keterbatasan sudut pandang kita.

Jika kita melakukan semua itu dengan baik, selanjutnya daripada melakukan tindakan kuratif (menyelesaikan masalah yang ada) kita lebih cenderung disarankan untuk melakukan tindakan (9) Preventive Maintenance. Dengan demikian tanpa harus menunggu sebuah kesalahan, error, bug, masalah terjadi, kita dituntut untuk menjaga agar tidak terjadi apa yang tidak kita inginkan. Ada sebuah istilah yaitu (10) MTBF (Mean Time before Failure). Ada pengukuran yang bisa dihitung untuk menentukan berapa lama kira-kira sebuah failure akan berulang terjadi. Sehingga sebelum tenggat ini terlewati, maka kita harus melakukan perawatan yang sudah ditetapkan dalam SOP hingga dapat mencegah kerugian yang besar.

Di awal tulisan ini dijuduli “Mengapa Terjadi Banjir?” Lho, apa hubungannya sih dengan bahasan di atas? Ya tidak usah menggunakan semua tools yang sudah disebutkan di atas ‘deh’. Yuk, kita coba menggali akar permasalahannya dengan mengimplementasikan pencarian akar permasalahan. Tidak persis fish bone, tapi masing-masing bisa mencoba versi Anda sendiri. Kalau digabungkan, saya yakin akan sangat luar biasa kompleks. Juga, kalau diterapkan, bukan tidak mungkin permasalahan ini bisa berlalu. Untuk membantu apa yang ditanya dan dijawab, bisa menggunakan alat bantu tanya (11) 5W 1H (Where, When, Why, Who What, How). Bagus juga kalau menggunakan (12) Mind Map (mirip fish bone) untuk mampu memetakan yang lebih kompleks. Kita coba ya…..

Lihat air sungai yang mengalir deras, dan banyak sampahnya.
– Mengapa banyak sampah? Karena banyak orang yang membuang sampah ke kali.
– Mengapa membuang sampah ke kali? Tidak ada tempat sampah.
– Mengapa tidak ada tempat sampah? Karena lingkungan rumah terbatas/sempit.
– Mengapa lingkungan sempit? Tingginya urbanisasi menyebabkan banyak rumah kumuh.
– Mengapa banyak rumah kumuh? Banyak orang daerah ke kota.
– Mengapa banyak orang daerah ke kota? Ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik.
– Mengapa tidak bekerja di desa/kampung halaman? Lapangan pekerjaan makin sedikit.

Mungkinkah lapangan pekerjaan adalah akar permasalahannya? Mungkinkah ada faktor lain yang menyebabkan lapangan pekerjaan makin sedikit? Kalau ini akar permasalahannya, apakah mungkin dengan menambah lapangan pekerjaan di daerah/desa/kampung, secara tidak langsung tapi mampu menjadi pengungkit yang besar untuk menyelesaikan banjir?

Ini baru dari satu sudut pandang Sosiologi saja. Pencarian akar masalah bisa saja dilihat melalui aspek Psikologis, Klimatologi, Biologi, dan sebagainya. Kalau semua orang peduli dan memberikan sumbangannya untuk mencari akar permasalahannya (dalam hal ini untuk banjir), lalu akar permasalahannya satu per satu diselesaikan, meski tidak instan, mungkin kita sudah ada di jalan yang benar untuk melakukan perbaikan jangka panjang dan berkelanjutan.

Sekarang, apa akar permasalahan versi Anda? Yuk kita diskusi. Kalau perlu kita buat komunitasnya.

Advertisements