Empa(4) P(0)eloeh

14 10 2011

Bagi manusia, menjadi sempurna justru menjadikannya tidak sempurna. Kesempurnaan terwujud justru pada ketidaksempurnaannya.

Mengejar ke arah kesempurnaan itu baik, namun sebenarnya yang bisa kita lakukan hanyalah mendekati ke arah kesempurnaan. Satu dunia, beribu masalah. Ingin menjadi yang sempurna.

Nyatanya tidak pernah ada. Saat mendekati ke kesempurnaan di sudut pandang kita, kita melihat ada yang lebih sempurna dari kita. Sementara kita tidak melihat aspek ketidak sempurnaan yang ada pada sosok idola kesempurnaan kita, karena kita disilaukan oleh citra kesempurnaan itu.

 

Saling melengkapi

Kesempurnaan dianggap sebuah aspek yang tunggal. Padahal dari paradigma lain bisa dipandang bahwa kesempurnaan (hanya akan) terjadi kalau – dua atau lebih aspek – saling menunjang, saling melengkapi, hingga terwujudlah apa yang disebut dengan kesempurnaan itu. Hanya sering kita disilaukan oleh kesempurnaan tunggal, yang mengganggap kesempurnaan adalah prestasi pribadi, bukan berasal dari sekumpulan aku-aku.

Menjelang 40, sebelum hari ini. Tuhan pastinya bukan dengan tidak sengaja mempertemukanku dengan begitu banyak pengalaman ketidaksempurnaan, ketidakseimbangan; baik mengalami maupun mengamati.

Sebagai manusia, dari awal hingga matinya, dan segala yang berkecamuk di antara keduanya sepanjang jalan kehidupan ini. Let say,

  • tidak punya anak,
  • kecerdasan yang berbeda,
  • ketidakcocokan,
  • keinginan yang lain,
  • proses adaptasi yang begitu sulit dan lama,
  • menyamakan paradigma,
  • mengembangkan/ mengubah individu, kelompok, atau organisasi,
  • stigma,
  • yang cerdas miskin; yang kaya bodoh,
  • jalan di tempat,
  • penentuan prioritas,
  • keterbatasan wawasan,
  • “naik kelas”,
  • rezeki yang berbeda jumlah dan jenis,
  • definisi rezeki,
  • pertengkaran,
  • menentukan pilihan,
  • mempertahankan atau melepaskan,
  • dunia subconscious,
  • akar masalah,
  • konflik orang tua anak,
  • parent image,
  • single parent,
  • multiple parent (hmm),
  • komunikasi (what a word!),
  • soul mate (Kitt, where R U?),
  • silaturahmi,
  • kerabat,
  • perceraian,
  • sedekah,
  • hadiah,
  • kesabaran,
  • pengendalian emosi,
  • KDRT,
  • penipuan,
  • pembagian peran,
  • kompensasi,
  • kompetensi,
  • personal business,
  • karir,
  • pendapatan,
  • futuristic visioner,
  • keadilan,
  • hening,
  • politik,
  • taktik,
  • strategi,
  • konseling,
  • komitmen,
  • menunggu,
  • masa depan,
  • janji,
  • menyia-nyiakan,
  • abai,
  • mengambangkan,
  • pertemuan,
  • perpisahan,
  • terkenal,
  • takdir,
  • penantian.
  • (Adakah yang disebut dua kali? Ah biarlah).

Percayalah, semua itu hanya sebagian kecil yang berkecamuk dalam pikiran dan hati, mata (karena melihat), kuping (karena mendengarkan). Tak mungkin semua apalagi satu persatu diurai dengan jelas. Beruntung otak manusia memiliki kapasitas yang tidak terhingga; konon. Juga adanya short dan long term memory, membuat semua ini mengadon menjadi satu dalam pikiran, sementara mereka ada di rumahnya masing-masing tak melebur jadi satu.

Namun semua ramuan itu menjadikan laksana kue matang keluar dari ovennya. Harum, penuh, aneka warna dan rasa, kompleks, utuh, solid, padat, men”jadi”.

Dan kue itu bernama: AKU.

Dengan resep: campuran berbagai PENGALAMAN HIDUP

Koki: MENGALAMI DAN MENGAMATI

Kompor : KEHIDUPAN NYATA

Oven: Perenungan dan pengambilan keputusan.

Dan semua itu hanya bisa terjadi karena: Keadilan Allah

 

Jakarta, 14102011;

Beberapa jam menjelang …..

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: