Sesuatu yang Kecil di Hari Besar

27 10 2011

Konsep ini aku tulis sehari sebelum hari ulang tahunku yang ke 40. Ternyata lupa aku terbitkan di hari H-nya. Nggak masalah lah, yang penting akhirnya aku terbitkan juga. Yang paling penting adalah, keberlanjutannya, yang aku catat harus terjadi pada 3 Januari 2012.

Di hari ini, aku memulai hari besarku dengan melakukan sesuatu yang kecil yang mungkin akan berarti sangat besar bagi seorang yang kecil ataupun besar. Dan itu bermakna besar bagiku yang kecil di tengah kehidupan ini. Semua itu semoga menambah besarnya arti sebuah kata kecil: KEHIDUPAN

Advertisements




Kurangi untuk Menambah

14 10 2011

Kurangi kepemilikan. Tingkatkan kreatifitas

Kurangi pembelian. Tingkatkan berbagi

Kurangi jam bersama TV. Tingkatkan jam bersama membaca

 

Kurangi bicara. Perbanyak diam

Kurangi keinginan. Perbanyak bersyukur

Kurangi penjelasan. Perbanyak perbuatan

Kurangi stress. Perbanyak tertawa

 

Kurangi berfikir. Perbanyak Rasa

Kurangi janji. Perbanyak memberi

Kurangi berkonsep. Perbanyak pengalaman

 

Kurangi menjawab. Perbanyak bertanya

Kurangi mencari keluar. Perbanyak pencarian diri kedalam

Kurangi batasan. Perbanyak kebebasan

 

Kurangi bicara. Perbanyak mendengar

Kurangi analisa. Perbanyak usaha

Kurangi menilai. Perbanyak perhatian

 

Kurangi kertas. Perbanyak pohon

Kurangi asap. Perbanyak udara bersih

Kurangi mengkritik. Perbanyak memuji

Kurangi perbedaan. Perbanyak pengertian

Kurangi meminta. Perbanyak memberi

 

Kurangi ketergantungan. Tingkatkan kesadaran

Kurangi kata lidah. Tingkatkan kata hati

 

(Dari wall post @Mardigu Wowiek)





Empa(4) P(0)eloeh

14 10 2011

Bagi manusia, menjadi sempurna justru menjadikannya tidak sempurna. Kesempurnaan terwujud justru pada ketidaksempurnaannya.

Mengejar ke arah kesempurnaan itu baik, namun sebenarnya yang bisa kita lakukan hanyalah mendekati ke arah kesempurnaan. Satu dunia, beribu masalah. Ingin menjadi yang sempurna.

Nyatanya tidak pernah ada. Saat mendekati ke kesempurnaan di sudut pandang kita, kita melihat ada yang lebih sempurna dari kita. Sementara kita tidak melihat aspek ketidak sempurnaan yang ada pada sosok idola kesempurnaan kita, karena kita disilaukan oleh citra kesempurnaan itu.

 

Saling melengkapi

Kesempurnaan dianggap sebuah aspek yang tunggal. Padahal dari paradigma lain bisa dipandang bahwa kesempurnaan (hanya akan) terjadi kalau – dua atau lebih aspek – saling menunjang, saling melengkapi, hingga terwujudlah apa yang disebut dengan kesempurnaan itu. Hanya sering kita disilaukan oleh kesempurnaan tunggal, yang mengganggap kesempurnaan adalah prestasi pribadi, bukan berasal dari sekumpulan aku-aku.

Menjelang 40, sebelum hari ini. Tuhan pastinya bukan dengan tidak sengaja mempertemukanku dengan begitu banyak pengalaman ketidaksempurnaan, ketidakseimbangan; baik mengalami maupun mengamati.

Sebagai manusia, dari awal hingga matinya, dan segala yang berkecamuk di antara keduanya sepanjang jalan kehidupan ini. Let say,

  • tidak punya anak,
  • kecerdasan yang berbeda,
  • ketidakcocokan,
  • keinginan yang lain,
  • proses adaptasi yang begitu sulit dan lama,
  • menyamakan paradigma,
  • mengembangkan/ mengubah individu, kelompok, atau organisasi,
  • stigma,
  • yang cerdas miskin; yang kaya bodoh,
  • jalan di tempat,
  • penentuan prioritas,
  • keterbatasan wawasan,
  • “naik kelas”,
  • rezeki yang berbeda jumlah dan jenis,
  • definisi rezeki,
  • pertengkaran,
  • menentukan pilihan,
  • mempertahankan atau melepaskan,
  • dunia subconscious,
  • akar masalah,
  • konflik orang tua anak,
  • parent image,
  • single parent,
  • multiple parent (hmm),
  • komunikasi (what a word!),
  • soul mate (Kitt, where R U?),
  • silaturahmi,
  • kerabat,
  • perceraian,
  • sedekah,
  • hadiah,
  • kesabaran,
  • pengendalian emosi,
  • KDRT,
  • penipuan,
  • pembagian peran,
  • kompensasi,
  • kompetensi,
  • personal business,
  • karir,
  • pendapatan,
  • futuristic visioner,
  • keadilan,
  • hening,
  • politik,
  • taktik,
  • strategi,
  • konseling,
  • komitmen,
  • menunggu,
  • masa depan,
  • janji,
  • menyia-nyiakan,
  • abai,
  • mengambangkan,
  • pertemuan,
  • perpisahan,
  • terkenal,
  • takdir,
  • penantian.
  • (Adakah yang disebut dua kali? Ah biarlah).

Percayalah, semua itu hanya sebagian kecil yang berkecamuk dalam pikiran dan hati, mata (karena melihat), kuping (karena mendengarkan). Tak mungkin semua apalagi satu persatu diurai dengan jelas. Beruntung otak manusia memiliki kapasitas yang tidak terhingga; konon. Juga adanya short dan long term memory, membuat semua ini mengadon menjadi satu dalam pikiran, sementara mereka ada di rumahnya masing-masing tak melebur jadi satu.

Namun semua ramuan itu menjadikan laksana kue matang keluar dari ovennya. Harum, penuh, aneka warna dan rasa, kompleks, utuh, solid, padat, men”jadi”.

Dan kue itu bernama: AKU.

Dengan resep: campuran berbagai PENGALAMAN HIDUP

Koki: MENGALAMI DAN MENGAMATI

Kompor : KEHIDUPAN NYATA

Oven: Perenungan dan pengambilan keputusan.

Dan semua itu hanya bisa terjadi karena: Keadilan Allah

 

Jakarta, 14102011;

Beberapa jam menjelang …..





Puisingkat: Ironi Sebatang Kayu

3 10 2011

Senja menjelang petang, menjadi waktu yang tersenang
Untuk mengumbar ide
di selepas kepenatan bekerja
Secercah masih tersirat ungkapan hati

——————————————————

Laksana sekerat kayu
Di antara belantara samudera
Mengambang kian kemari

Tak ada arah, tak ada tujuan
Ke mana angin, akan menghanyutkan

Jika masanya, kan ter-renyuh
Termakan air, lumut, dan ikan
Pula camar laut

Mungkin tak tenggelam
Namun bertebaran tak menyatu

Karena kau mencampakkan
Dari sebatang tinggi

Mengabaikan dari bagiannya
Men-tak-acuhkan keberadaannya

Membiarkannya terpencar
Menjelma tak ubahnya serpihan

Ku menunggu
MAgnet yang bukan baja
Mengumpulkanku menyatu
Terbawa ke pantai harapan

Ku berharap
Bersatu kau olah
Menjadi selembar kertas
Yang mungkin tak putih benar

Yang bisa kau tulis
Atau kau jadikan pembungkus
Untuk membungkus hatimu rawan.

03102011, diiringi “Memory”-nya Susan Wong, dari A Night at the Movies