Peristaltik

24 03 2011

sudah sejam rasanya, mencari ilham di ruangan 1×2 meter, sembari menunggu gerakan peristaltik. Hanya gravitasi yang bisa membantunya. Andai ada tombol putar potensiometer untuk menambah angka dari 10, mungkin semua ini bisa lebih cepat diakhiri..

kembali ke peraduan. menyisakan perasaan tak biasa. ribuan semut menggerumuti pangkal tungkai. Inikah nyata, atau hanya perasaan semata.

Peristaltik masih terasa. Bergerak dan bersuara. Irama tanpa birama, apalagi rima. Haruskah aku kembali ke sana?

Ruang itu tak begitu ku senangi. Apalagi kucintai. Tapi kerap harus kudatangi. Tak perlu pelet penarik hati, aku kan kembali, lagi dan lagi. Entah untuk yang ke sekian kali.

Duhai sang peristaltik. Remaslah sekuat kau bisa. Hantarkan sampai ke pintu terakhir. Di akhir waktu nanti, katakan pada sang rasa, inilah waktunya.

umpulkan semua dulu, sampai jadi satu. Di antaranya, bolehlah sekali dua kau beri tanda, dengan aroma atau suara. Penanda waktu telah tiba. Karena kadang ku lupa. Bahwa ini harus terlaksana.

Duhai sang peristaltik pembawa rasa, kini pejamkanlah mata. Saatnya untuk rehat semasa. Kembalilah saat mentari mulai hendak bercahaya. Meski ku tau sahaja. Kau tetap bekerja.

Advertisements

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: