Peristaltik

24 03 2011

sudah sejam rasanya, mencari ilham di ruangan 1×2 meter, sembari menunggu gerakan peristaltik. Hanya gravitasi yang bisa membantunya. Andai ada tombol putar potensiometer untuk menambah angka dari 10, mungkin semua ini bisa lebih cepat diakhiri..

kembali ke peraduan. menyisakan perasaan tak biasa. ribuan semut menggerumuti pangkal tungkai. Inikah nyata, atau hanya perasaan semata.

Peristaltik masih terasa. Bergerak dan bersuara. Irama tanpa birama, apalagi rima. Haruskah aku kembali ke sana?

Ruang itu tak begitu ku senangi. Apalagi kucintai. Tapi kerap harus kudatangi. Tak perlu pelet penarik hati, aku kan kembali, lagi dan lagi. Entah untuk yang ke sekian kali.

Duhai sang peristaltik. Remaslah sekuat kau bisa. Hantarkan sampai ke pintu terakhir. Di akhir waktu nanti, katakan pada sang rasa, inilah waktunya.

umpulkan semua dulu, sampai jadi satu. Di antaranya, bolehlah sekali dua kau beri tanda, dengan aroma atau suara. Penanda waktu telah tiba. Karena kadang ku lupa. Bahwa ini harus terlaksana.

Duhai sang peristaltik pembawa rasa, kini pejamkanlah mata. Saatnya untuk rehat semasa. Kembalilah saat mentari mulai hendak bercahaya. Meski ku tau sahaja. Kau tetap bekerja.





Koleksi Kata

9 03 2011

Ini adalah sisa koleksi kata yang tidak termanfaatkan saat membuat puisi untuk ulang tahun Tempo. Mungkin lain waktu bisa diramu menjadi puisi lainnya.

adalah, ampuh, Boleh, Buruh, butuh, Gajah, Getih, jauh, kawah, keruh, kilah, (me)lepuh, mengolah, mewah, Murah, Paruh, patah, , pilah, sah, sampah, sebuah, tatah, telaah, Telah, terserah, tumpah, wadah.





PESONA EMPAT PULUH TAHUN TEMPO

9 03 2011

Sejatinya puisi ini dibuat untuk lomba merayakan hari ulang tahun Tempo yang ke 40. Mudah-mudahan dapat nomer di penjurian nanti 🙂 Nggak apa-apa lah dipublish sebelum penjurian dimulai ya? 🙂

Keunikan Puisi ini adalah:
– Huruf awal tiap baris membentuk judulnya: PESONA EMPAT PULUH TAHUN TEMPO
– Rima puisi ini (bener nggak ya istilahnya rima hehe…) berakhiran huruf H (kecuali yang terakhir).
– Penggunaan kata rima akhiran H tidak ada yang diulang (CMIIW)
– Masing-masing bagian puisi ini (hmm… istilahnya apa ya?) menceritakan perjalanan Tempo: (1) Flash back), (2) (Masa OrBa), (3) Bangkit, Lahir Lagi, (4) Saat berkembang/menyongsong masa baru, (5) Do’a

PESONA EMPAT PULUH TAHUN TEMPO

(FLASHBACK)
Perjalanan hidupmu penuh susah dan Indah
Edisi demi edisi kau cipta tanpa lelah
Setiap hari dan minggu berusaha bersih tanpa celah
Omelan penguasa tak membuatmu lemah
Namun sanjungan pun tak menjadikan jengah dan lengah
Apapun pujiannya selalu merendah sebawah tanah

(ORBA)
Era politik sempat membuatmu rebah dan resah
Mencoba menghancurkan melalui seakan salah
Pernah mereka membuatmu marah bak tersengat lebah
Atau menurunkan semangat melelehkan getah
Tak sekalipun semua itu menjadikan letih, sedih

(BANGKIT, LAHIR LAGI)
Penguasa beralih, demokrasi kembali pulih
Umbi di tengah sawah basah kembali tumbuh
Liputan di belantara dunia mencari berita terpilih
Upaya mencari kebenaran tanpa keluh dan mempedulikan peluh
Hidupmu meramu buih data menelaah, memilah, dan memilih menjadi berita yang putih bersih

(SAAT BERKEMBANG/MENYONGSONG MASA BARU)
Tak disangkal, bagi kami kau-lah rumah dan sekolah
saat mulai tertatih hingga menjadi gagah

Abdikan kemampuan kami menatah prestasi diiringi ibadah
Hati kami tlah terenyuh pada si dia yang kokoh dan kukuh
Untuk tetap selalu bersama melangkah menempuh suka dan susah
Nadi kami berdetak roh mu mengalir dalam jiwa dalam darah

(DOA)
Tetaplah menjadi lidah, setajam bilah, dan secepat panah, tanpa mengharap hadiah
Empat puluh adalah waktu untuk kali kedua melangkah
Menuju puncak, menghasilkan buah kreasi nan megah
Pesona Empat Puluh laksana dewasa kedua hidupnya majalah
Oh Tempo, di sinilah Tempat Ekspresikan Minat, Potensi, dan Obsesi