Dilema organisasi kecil

25 10 2010

Sebuah organisasi yang besar akan lebih mudah membuat sistem tentang promosi.
Kandidat akan memiliki banyak pilihan. Sehingga kandidat yang baik pun bisa jadi tersisihkan karena ada yang lebih outstanding.

Masalah terjadi pada perusahaan kecil, saat ketenagaan yang ada terbatas. Secara ekstrim – hanya ada satu kandidat yang akan dipromosikan. Jadi seakan-akan dia akan pasti menduduki jabatan promosionalnya. Padahal belum tentu juga. Masalah makin jelas ketika hasil asesmen keluar. Assessor jelas-jelas menyatakan dia tidak layak (tidak disarankan) untuk jabatan promosionalnya. Dengan kata lain, please… jangan promosikan dia, karena terlalu banyak krkurangan yang ada di diri dia. Masalah lebih kompleks lagi karena biasanya kekurangan yang ada bersifat kompetensi. Paradigma kompetensi, makin tua makin sulit dikembangkan.

Jadi, berapa harga yang harus kita bayar? Jika kita tolak, user akan kecewa. Termasuk si kandidat. Sementara dia sudah lama menduduki posisi itu. Pun dia satu-satunya yang in-charge di bidang itu. Apa harus merekrut dari luar? masalahnya ada juga policy promotion from with in, dan juga rekrutmen dari luar dibatasi karena ada program efisiensi.

JIka kita terima, kandidat dipromosikan. kalau ada apa-apa, maka PSDM yang akan dipersalahkan. Kalaupun tidak, bisa diduga kinerjanya tidak akan mencapai standar yang diharapkan. Ujung-ujungnya performance organisasi yang dia pimpin merosot. Dampaknya akan membawa kemerosotan di seluruh lini kerja perusahaan. Terakhir, kinerja perusahaan menurun.

Jadi, apa pilihan kita?

Advertisements




Too many Agenda

19 10 2010

Menjadi seorang HR executive, terutama sebagai Organization Development – atau yang di BUMN dikenal sebagai Ortala (Organisasi dan Tata Laksana) memang nggak gampang.

Binatangnya begitu banyak. Sebut saja: PA, PMDT, IDP, IIP, CC, JK, CB, JD, SOP, PD, SK, Job Eval, SKR, review, BPR, CRM, KPI, BSC, Huuuhhh….