Waktu, Peluang, dan Kesempatan

19 04 2013

Waktu, Peluang, dan Kesempatan, mungkin adalah sesuatu yang tidak bisa datang dua kali. Karena itu, pergunakanlah dengan sebaik-baiknya.





Puisingkat: Purnama dan Sang Surya

26 05 2021

Saat purnama bersua sang surya
mereka saling menatap, namun tetap berjarak
bukan karena pandemi, hanya tak mungkin terjadi

Mengapa mereka seperti kita?
Atau kita yang seperti mereka?
Hanya bisa menatap
Pandemi atau tidak, tak mungkin mendekati

Saat mereka mendekat, mungkin itu kiamat
Apakah kita pun begitu?

#Rush





Bulan Merekah, Rezeki Berlimpah. Alhamdulillah.

15 10 2020

Oktober selalu menjadi bulan yang istimewa. Tiga dari kami berulang tahun di bulan ini bahkan dua di antaranya di tanggal yang sama. Teman sekantor di satu bagian datang dan pergi. Tapi selalu saja ada yang berulang tahun di bulan Oktober. Pernah pada masanya tanggal berselangnya unik. Ada yang berulang tahun di tanggal 5, 10, 15, 20, 25. Luar biasa ya?Tahun ini, bukan hanya soal ulang tahun. Putri tertua saya diwisuda satu hari setelah tanggal ulang tahun saya. Itu merupakan hadiah terindah yang pernah saya terima. Persis sebulan sebelumnya – sebelum dia diwisuda – dia sudah diterima bekerja. Saat orang lain mulai resah menghadapi PHK yang di ada depan mata, rezekinya dilancarkan oleh Yang Maha Berkelimpahan. Bahkan saat itu dia sudah diterima di tiga perusahaan. Akhirnya dia memilih perusahaan di tempat bekerjanya sekarang. Fasilitas yang didapatkan jauh dari yang didapatkan oleh Bapaknya. Pendapatannya? Mudah-mudahan suatu saat akan jauh melebihi dari bapaknya. Aamiin… aamiin… aamiin…..Di usia segini, apa yang diharapkan selain kesehatan? Meskipun tidak bugar, setidaknya saya sehat, buktinya saya tidak sakit. itu juga rezeki yang luar biasa.Di usia yang nyaris setengah abad ini bersyukur kami masih bisa menikmati hidup di tengah kondisi yang tidak menentu, dengan segala keterbatasan tentunya. Di antara orang yang tak berada, kami merasa masih lebih berada. Di antara orang yang bahagia, kami merasa lebih bahagia. Di antara orang yang tidak memiliki, kami banyak memiliki itu dan ini. Di antara orang yang sakit, Tuhan masih menjaga kesehatan kami.Rezeki, tak hanya yang bisa dikukur dengan apa yang dimiliki, yang dipunyai. Tapi yang dirasakan, dan yang dialami, adalah juga rezeki. Dua tahun lalu tepatnya di Bulan Agustus, saya sempat mendapatkan kecelakaan sehingga harus lama tinggal di rumah sakit dan lama pula recovery di rumah. Bencana? Sudah pasti. Tapi di balik itu saya melihat rezeki juga. Bahwa dalam ke-sakit-an, dosa saya berguguran. Saya juga melihat siapa teman, saudara, dan kerabat sejati sebenarnya. Memberikan pertolongan, bantuan, dukungan, doa, dan penghiburan datang dari berbagai penjuru. Bukankah itu nikmat yang tak terhingga, jika kita mau memikirkannya?Enam bulan semenjak kejadian itu kami sekeluarga (minus 1) dizinkan bertandang ke tanah Haram, rumah Allah, Mekkah. Betapa rezeki yang tidak terhingga. Rasanya ingin kembali sekeluarga penuh berkunjung lagi ke sana. Seharusnya tahun depan kami berencana bertandang kembali. Namun rezeki dan pandemi menghalangi. Tapi kuasa dan kebesaranNya kenapa harus ragu? Yakin, waktu itu akan segera menjadi kenyataan. Aamiin.Memiliki bukan belaka mempunyai secara pribadi. Memiliki teman dan sahabat yang perhatian. Meskipun di era pandemi semua harus dilakukan melalui media berteknologi. Reuni, tertawa, bercanda, berkelakar, bertukar perasaan, dengan banyak teman atau dengan beberapa sahabat sejati. Bahkan ada pula sahabat yang seumur hidup belum pernah bertatap muka sekalipun juga.Dengan teman sealumni kami berkolaborasi membuat sebuah bentuk seni. belakangan hasil kolaborasi mendapatkan penghargaan dan meraih kemenangan dalam lomba ulang tahun fakultas. Hadiahnya kami sumbangkan ke sebuah panti. Rezeki anak panti ternyata dialirkan melalui kami. Bukankah itu sangat berarti bahwa kita menjadi saluran rezeki bagi orang lain?Alhamdulillah. Rezekiku berkelimpahan dan tak ada hentinya.Terima kasih teman,telah selalu bersanding selama perjalanan.Terima kasih keluarga,yang selalu ada dan setiap saat menjaga.Terima kasih orang tua,untuk kasih yang tak terbalaskan oleh segala.Terima kasih Tuhan,atas teman, keluarga, dan orang tua.-AJ/15102020-





Ay Em Sori

15 10 2020

Dari jauh-jauh hari saya sudah berencana menulis ini.15 Oktober. Sehari menjelang medio bulan ini.Ini adalah hari peringatan kelahiran saya 49 tahun yang lalu. Bahkan saya berencana mempostingnya tepat pada pukul 00:00. Kalau tidak ya seawal mungkin di tanggal 15 ini akan saya postingkan ke halaman buku muka ini. Terakhir lihat jam semalam sih 23:45. Tapi akhirnya terposting dengan sukses sekitar 03:30-an 😁.Beberapa menjelang hari bersejarah ini saya melakukan banyak introspeksi. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, maka untuk tahun ini saya memilik tema spesial. Wah sudah kayak apa saja ya pakai tematik segala. Hmm tapi itu memang ada alasannya.Tema itu adalah ……. MINTA MAAF.Saya jujur mengatakan bahwa selama hidup saya jauh dari sempurna. Banyak kesalahan yang saya lakukan terhadap sesama. Kesalahan yang disengaja, apalagi yang tidak disengaja. Kesalahan yang diketahui, dan yang tidak diketahui. kesalahan yang arogan saya tidak mau mengakuinya, dan kesalahan yang saya malu mengakuinya.Yes, saya tahu persis. Beberapa di antara teman-teman di sini bakal berkata dalam hati “nah lo Man, akhirnya Lo nyadar juga”.Yup. Ada beberapa hal kesalahan yang sampai sekarang masih terngiang-ngiang. Tanpa perlu mengatakannya itu kepada siapa, ya, benar. Itu adalah kamu. Iya kamu! Bener kan? Ingat kan? Maafkan saya ya. Saya memintanya dari hati yang paling dalam. Jika saja saya lebih terbuka, mungkin saya akan lebih mudah untuk mengatakannya secara langsung kepada kamu. Atau mungkin saya lupa. Saya tidak berkeberatan kalau kamu mengingatkan saya akan kesalahan itu. Bahkan saya sangat berterima kasih, karena itu akan melapangkan jalan saya nanti ke depannya. Ah ada satu lagi. Satu alasan mengapa tahun ini saya membuat tulisan ini, seperti saya tuliskan di awal tulisan ini. Belakangan ini ada satu kesalahan yang bahkan sama sekali saya tidak ketahui apa kesalahan saya itu. Namun “si dia” mengatakan bahwa saya salah dan menghukum saya. Hmm… Sejujurnya dia tidak mengatakan salah. Pun ini mungkin bukan pula hukuman darinya. Itu asumsi saya belaka. Tapi kalau tidak bersalah mengapa “si dia” berperilaku seakan-akan tidak ingin mendengar, bahkan mengingat sedikitpun bahwa di dunia ini ada orang seperti saya, yang bernama Arman ini.Masalahnya dia “menghukum” saya dengan tidak memberikan akses apapun bagi saya untuk sekadar bertanya, ada apakah gerangan, dan mengapa semua ini terjadi. Siapa sih dia? ‘Si dia” tanpa perlu menyebut namanya adalah seseorang yang memiliki profesi terhormat, disegani, dan diakui oleh berbagai kalangan. Berbudi, ramah, sopan santun, baik hati, pintar, kreatif, berpendidikan tinggi, berjaringan luas. Dengan pengetahuan dan keterampilannya – atas izin Yang Kuasa – bisa mengurangi dan menghilangkan penderitaan orang lain. Apa lagi? You name it! Saya pikir tidak ada satupun celah bagi saya untuk melihat kekurangannya. Perfecto! Saya pun menghormatinya sebagaimana kapasitas profesinya, dan rasanya tidak ada celah bagi saya untuk memiliki kesalahan kepadanya. Karena interaksi hanya terbatas pada bidang profesionalnya. Hingga wajar jika ada perasaan gundah gulana yang menjalari sekujur jiwa.Dibiarkannya saya dalam keadaan tergantung. Penasaran. Terheran-heran. Bertanya-tanya, dan menebak-nebak seribu kemungkinan yang ada.Seribu kemungkinan? Hmmm terlalu lebay kali ya. Ya pastinya tidak sebanyak itu sih. Tapi mungkin ada 3. Saya selalu mengatakan “selalu ada kemungkinan ketiga”. Apa itu kemungkinan ketiga? Beberapa waktu lalu saya pernah menulis perihal ini. Silakan lihat IG saya saja untuk membaca selengkapnya ya….Tidak memberikan akses? Hmm… Banyak jalan ke Roma, dan saya tahu banyak jalan itu jalan yang mana saja. Beberapa kali saya pernah “main detektif-detektifan” (seriously 😁!!). Mencari seseorang, menemukan alamat, atau tracing sesuatu (cling!!! Tiba-tiba saya menemukan AHA suatu lahan bisnis blue ocean yang belum jamak ada di negeri ini 😁😁). Kalau tidak salah nama profesi itu adalah PI. Apa coba? Ada yang tahu?Namun saya tahu jalan manapun yang saya tempuh, tetap saja saya tidak diizinkannya untuk masuk. Tak kan mungkin masuk, sejauh pintu hatinya belum dibuka. Yes, ini bukan masalah menemukan. So easy for that. Tapi membuka sebuah pintu yang saya tidak tahu kuncinya, itu lain cerita.Baiklah saya minta maaf kepada saudara, teman dan sekalian handai taulan. Sementara itu saya juga sudah duluan memaafkan jika saja ada yang merasa bersalah kepada saya.Semoga hari ini dan seterusnya jalan hidup saya lebih lapang karena kamu (iya kamu!) telah memaafkan saya. Terima kasih ya… πŸ™‚Seperti kata Pertamina, kita mulai dari 0 ya…Tapi jangan juga seperti joke lebaran yang satu ini. Mengapa orang tiap Lebaran selalu maaf-maafan?…..Ya karena maaf-maafan, bukan maaf beneran.Maksudnya?Yaaaa seperti mobil-mobilan. Bukan mobil beneran. Ye kan? 😁😁😁Malam berbulanSaatnya menjadi Empat SembilanMeng-kilas balik hidup iniBanyak sudah yang memberi artiMenghening sejenakApa yang sudah, apa yang kelakSelama masih urip (hidup)Harus tetap urup (menyala)Roller coaster kehidupanKe atas dan ke bawah, berjalan pelan-pelanIngat saat di atasBisa meluncur ke bawah dengan derasSaat di bawahMendaki naik dengan berlelah-lelahPertemuan dan perpisahanKebaikan dan keburukanKesedihan dan kebahagiaanKe-sakit-an dan ke-sehat-anKerinduan namun tak benciMengingat apa yang telah pergiAda yang pergiSebagian kembali lagiYang pergi selamanyaTetap di hati dan selalu didoaYang belum kembaliSemoga bertemu lagiSambung silaturahmi, rezeki berlimpahBuka pintu hati, buka pintu berkahJalanan diukur seharianMencari rezeki sekepalanSujud syukur keharibaanBerharap cemerlangnya masa depanAamiinAJ/15102020





Bawang Merah dan Permen Karet

17 08 2020

Apaan coba? Di mana-mana bawang merah ya dipasangkan dengan bawang putih. Bahkan dongeng anakpun berjudul Bawang Merah dan Bawang Putih.

Bawang Merah dan Bawang Putih ini juga tidak ada hubungannya dengan tanggal keramat hari ini, 17 Agustus. Sejarah warna merah-putih di negeri ini lebih mengarah (salah satunya) pada getah-getih. Getah adalah darah mahluk hidup tumbuhan yang berwarna putih, sedangkan getih adalah darah mahluk hidup binatang dan manusia yang umumnya berwarna merah. Informasi ini saya pelajari saat SMP saya mengikuti kegiatan Pramuka Penggalang yang tanggal 14 kemarin merayakan ulang tahunnya.

Kembali ke urusan bawang.

Kelihatannya bagi ibu-ibu bawang merah akan cocok dipasangkan dengan permen karet. Bahkan di pasar mungkin pedagang bawang bisa menjualnya berbarengan dengan permen karet. Hmm pangsa pasar baru untuk penjual permen karet ya hehehe… Tiap hari sepertinya tidak akan terlewat dengan si bawang yang menjadi bumbu dasar masakan Indonesia ini.

Lho kok bisa begitu?

Pagi ini kami memutuskan memasak beberapa makanan. Di antara bumbu yang harus disediakan adalah bawang merah dan bawang putih. Saya, didapuk untuk mengupas dan merajang mereka semua.

Tiba- tiba saya teringat sebuah artikel yang pernah saya baca di internet entah kapan dan di portal mana. Katanya mengunyah permen karet dapat menghindarkan “kesedihan” yang mendalam saat mengupas apalagi merajang bawang merah. Mata perih, air mata bercucuran, mata berkedip-kedip. Tissue berlembar-lembar pun harus standby.

Untung beberapa waktu lalu saya membeli permen karet. Iseng2 biar nggak ngantuk waktu nyetir. Saya tidak yakin benar apakah artikel itu menunjuk tentang permen karet atau bukan, atau makanan yang lain. Tapi yang saya ingat adalah tentang aktivitas mengunyah. Maka sebelum saya mengupas dan merajang bawang merah, saya mulai dengan mengunyah permen karet.

Voila!! Benar saja! Resep yang pernah saya baca itu benar-benar ampuh! Selama saya mengupas, apalagi merajang bawang merah, mata saya tidak perih sama sekali.

Silakan mencoba ya… Tapi jangan lupa, mengunyahnya tidak boleh berhentinya. Kalau berhenti, tanggung sendiri akibatnya πŸ˜„

Catatan: saat mengupas dan merajang merah saya tidak memakai masker dan face shield ya… πŸ˜„





Kata

16 08 2020

Tatkala sang ilham menghampiri
Berloncatan kata dalam kepala
Menyeruak berebutan
Menuju ujung jemari
Ingin mendahului
untuk dituliskan
Menjadi kisah
Suara hati.
Sabar!

Satu-satu!
Semua akan ada waktunya.
Akan kutulis kalian
Dalam lembaran kosong ini.

Bahkan jika kau kusenangi
akan kutulis kau berkali-kali.





Pemutakhiran

6 07 2020

Ilham hari ini mendapat inspirasi ketika HP saya kemarin ada pengingat online yang mengatakan bahwa ada pembaharuan mutakhir untuk OS Android Q saya. Pemutakhiran terbaru dilakukan untuk menyesuaikan dengan kondisi kemajuan teknologi terakhir dengan beberapa kemampuan baru.

Tidak berbeda dengan HP, sebagai manusia kita juga wajib untuk selalu melakukan pembaharuan-pembaharuan terakhir agar kita juga bisa menyesuaikan diri dan merespon situasi kondisi di luar kita.
Jika tidak melakukan pemutakhiran kita mungkin bisa saja tetap hidup, tapi tanpa terasa suatu saat nanti kita akan tiba-tiba merasa terbelakang, tidak berkembang, tidak bisa mengikuti lajunya perkembangan.

Sama dengan analogi guru dan murid, kita harus menjadi seorang murid, seorang pembelajar. Di sekolah satu guru mengajar satu (atau beberapa) mata pelajaran. Tapi sebagai murid, kita tidak memiliki pilihan. Harus mampu menguasai semuanya.

Semua? Hmm…. Mungkin lebih bijak jika kita mengambil sekolah “kejuruan” yang mem-fokuskan pada beberapa bidang saja. Fokus di bidangnya, ahli di bidangnya.

Di satu sisi kita dituntut untuk menjadi generalis, dan di sisi lain kita perlu tetap menjadi spesialis yang mahir di bidang spesialisasi/passion kita.





Kreativitas

28 06 2020

Kreatifitas terjadi ketika otak kita korslet dengan sesuatu hal yang membuat kita “kesetrum”.
Penyebab korslet bisa macam-macam. Baca buku, nonton, ngobrol, berimajinasi, bermimpi, diskusi, googling, juga rekreasi, dan bahkan menyanyi.

Intinya makin banyak kita terterpa oleh berbagai macam badai, makin mungkin kita korslet lalu kesetrum.
Makanya… Ingin kreatif? Ya banyak-banyak lah mencari badai yang berbeda dari hari ke hari. Dari waktu ke waktu, mencari sesuatu yang berbeda, yang membuat kita menjadi kaya, dan makin banyak memungkinkan munculnya ide yang beragam.

Saya selalu ingat pesan almarhum dosen saya yang mengatakan kalau cuma bisa Bahasa Inggris ya mimpinya paling banter dalam bahasa Inggris. Coba memahami Bahasa Jepang, Jerman, Korea, Rusia, maka mimpi kita makin berwarna. Bukan hanya bahasa yang berbeda, tapi masing-masing bahasa memiliki logika bahasa yang berbeda bukan? Ada bahasa yang memberikan sebuah benda memiliki gender. Ada bahasa yang ada level pasaran hingga kromo inggil.

Saya sendiri orang Jawa (Tengah). Suatu ketika pernah mendengar seseorang berbicara dengan Bahasa Jawa halus. Sudahlah yang menyampaikan sendiri perawakannya menarik, mengucapkannya juga tak kalah menariknya. Rasa bahasa yang saya tangkap begitu indah. Saat itu ingin rasanya saya sebagai orang Jawa belajar bahasa Jawa (yang sampai saat ini belum kesampaian).

Kreatifitas tidak hanya membuat sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada. Namun bisa juga ia mengubah dari bentuk yang satu menjadi hal yang lain. Bahkan memalsukan sebuah lukisan diperlukan kreatifitas yang tinggi bukan? Dalam hal tertentu ia bisa disebut inovasi karena yang di’cipta’kan tidak lah benar-benar baru. Namun dengan kreativitasnya bisa menjadi sesuatu yang baru.

Kreatifitas juga kadang membutuhkan tempat dan waktu tertentu. Ada yang mendapatkan ilham ketika berada di bilik 2×1 meter. Biasanya dengan membawa HP :-D. Ada juga yang mendapatkan inspirasi ketika sedang shalat (ada yang bilang ini sih ulah mahluk yang mengganggu konsentrasi ibadah kita). Atau seperti saya sekarang ini. Mendapatkan ide ketika sehabis acara nongkrong-nongkrong online bersama alumni kuliahan dan para dosen. Sebelum acara sempat diputarkan lagi himne Universitas Padjadjaran. Tapi karena masalah teknis, akhirnya tidak bisa. Lalu kami bersama-sama menyanyikan lagu himne itu.

Himne adalah lagu yang syahdu, dibawakan dengan tempo lambat, dan cocok rasanya lagu ini buat membawa kita ke alam masa kuliah dulu. Bahkan bagi saya rasanya bisa membuat saya merasa masih kuliah. Nah, rasanya saya harus sering-sering menyanyikan himne ini biar awet muda wkwkwkwk. Tapi – mungkin karena kreatifitas – pada saat menyanyi bersama itu saya hampir tertawa, karena saya merasa ada yang lucu pada liriknya. Liriknya sih tidak lucu. Tapi (nah ini juga salah satu cara kreatifitas), saya mengasosiasikannya dengan suatu keadaan/kondisi tertentu. Itu tercermin dalam kata-katanya (bisa dibaca di bawah).

Akhirnya karena kondisinya memang benar-benar memenuhi syarat: waktu malam, sepi, habis dengar lagu yang bikin otak tiba2 nyetrum, malam-malam tapi kok malah nggak ngantuk, tiba2 keluarlah ide untuk menggubah lagu ini. Duh, ini saya sebelumnya harus minta maaf kepada seluruh warga unpad, dan bahkan penciptanya, karena saya menggubah lagu ini. Tapi punteeeen pisan, ini hanya sekadar luapan kreatifitas saya di malam hari yang saya pikir harus saya salurkan. Mohon maaf sebelumnya bagi yang tidak berkenan. Gubahan lagu ini rasanya cocok pisan dibawakan kalau dua insan alumni Unpad memadu janji menjadi satu hehehe.

Seperti apa lirik lagunya, silakan baca sendiri di bawah ini. Untuk teman-teman yang lupa atau bukan dari Unpad ya silakan googling sendiri di youtube lagu Himne Universitas Padjadjaran ya.

universitas kita / Ini kisah hidup kita
padjadjaran tempat bernaung /rumah tinggal tempat bernaung
insan abdi masyarakat / dua insan bersatu
pembina nusa bangsa / membina rumah tangga
padjadjaran lambang suci / pernikahan lambang suci
almamater yang tercinta / mengikat dua yang tercinta
tempat ilmu dan cita / tempat hidup dan jiwa
almamaterku tercinta / mengikat jadi bersama

Setelah direnungkan, dihayati, dan memperhatikan lirik aslinya, agar lebih mirip lirik akhirnya adalah seperti berikut:

Ini kisah hidup kita
Rumah tinggal tempat bernaung
Dua insan saling mengikat
Membina rumah tangga
Pernikahan lambang suci
Janji dua insan yang mencinta
Tempat hidup dan jiwa
Mengikat jadi bersama





Air Bah, Hadiah Tahun Baru 2020

4 01 2020

Daaaan…. inilah kompilasi curahan hati
yang membawa kenangan sampai mati.
Jujur tak kusukai,
tapi semua sudah terjadi.
Hadapi dengan berani,
dan pasrah hati.
Karena semua ini
Sudah putusan Illahi.

Jakarta, Slipi, 4 Januari 2020

—————-

Hujan turun
Gemericik mengalun
Daun berayun
Aku tertegun

Air mengalir
Alur air terhambat
Macet mengular
Banjir penyebab

Air menyeruak masuk
Di subuh yang masih sejuk
Aku hanya bisa terduduk
Memandang deras bah yang sedang sibuk

Air surut
Mari bersihkan rumah
Kelak kaki kan diurut
Untuk hilangkan lelah

Aku bergumul dengan air
Membuang semua keluar
Tanah lumpur bercampur pasir
Ku lempar semua keluar pagar

Menghitung hari di musim hujan
Berharap banjir tak lagi berkenan

Malam berlalu, berganti siang
Berharap esok banjir tak lagi datang

Banjir telah melanda
Aku tetap siaga

#pantunbanjir #banjir #banjirjakarta #jakartabanjir

(Banjir 1 Januari 2020)





Belajar Menuju Haiku

30 12 2019

Alhamdulillah besar mencurah
Semoga hujan membawa berkah
Melalui air yang bertumpah ruah

Berdo’a di antara derasnya hujan
Semoga terwujud semua harapan
untuk waktu di masa depan

Hujan berlomba turun tiada henti
Berlarian di sepanjang alur kali
mengejar dia yang sudah mendahului

Petir berteriak mengucap salam
Kilat bercahaya menerangi malam
Di antara malam yang kelam

Semua tertahan di warung malam
Sedangkan kucing mendengkur dalam temaram
Begitu pulsa mengorok menggeram

Kantukpun mulai tak tertahan
Sedangkan perut telah dipenuhi makanan
dan hangatnya segelas minuman

Malam semakin larut
Tapi mengapa aku mulai sakit perut? 😁
Dan perutpun sudah bersuara tut tut tut 😁

Tiba di rumah berharap kasur
Ingin hati langsung mendengkur
Mengistirahatkan badan lurus tersungkur

Minum panas segelas coklat
Membuat mata makin merekat
dan hatipun makin mendekat





Iman

15 08 2017

Saya punya ungkapan. Sudah lama tidak lagi menyuarakan ungkapan itu lagi. Itu tercetus lagi saat bertemu dengan teman yang akan mulai berkiprah di bidang lain. Ungkapan itu adalah: Seringkali kita berislam (mengucapkan [dan menjalankan] rukun islam), tapi sama seringnya kita tidak beriman (mengucapkan [menjalankan] rukum iman) utamanya dalam perihal percaya pada takdir baik dan takdir buruk